Translate

Kamis, 25 Juni 2015

Cara bikin opak sambil bermain

Ketika Ramadhan tiba, musim panenpun datang. Anak-anak bergegas menuju tanah garapan, tempat para petani kebon singkong sedang melakukan panenan. Di saat orang dewasa sibuk menyortir singkong-singkong besar untuk dikarungkan, anak-anak asyik memunguti singkong-singkong kecil yang tak masuk hitungan kiloan. Hasilnya lumayan, siap untuk diparut dan dijadikan acian. Untuk selanjutnya diolah menjadi kerupuk opak. Warga setempat menyebutnya enye-enye. Hebatnya lagi, opak ini dikerjakan oleh anak-anak, bermain sambil ngabuburit menunggu beduk maghrib. Berikut cara dan gambar pembuatannya.



HAMBALANG (Persbiro): Setelah singkong diparut, perlu disiapkan dua kaleng susu. Kaleng yang satu untuk membentuk adonan acian menjadi bulatan gepeng (lihat gambar), kaleng yang satu lagi diisi air dan dijerang di atas tungku api untuk merebus gepengan tersebut dengan cara diuap dengan air mendidih.

Saking asyiknya membuat enye-enye, anak-anak itu tidak sadar kalau waktu ashar sudah masuk dan di dalam mushola ada orang yang tengah mengumandangkan azan. Langkah Alec hendak menuju mushola pun terhenti menyaksikan keasyikan itu. Kebetulan, mereka melakukannya di samping mushola, sebelah pondok yang ditempati Alec. Ia tertegun dan segera berbalik pulang untuk mengambil HP kamera. Sejumlah gambar beresolusi rendah (agar lebih cepat untuk di-upload ke internet) pun dihasilkan. Baru setelah itu bergabung dengan jemaah ashar yang sudah masuk rakaat kedua.
Seusai shalat ashar,  beberapa gepengan opak alias enye-enye sudah selesai diuap dan mulai digelar di atas plastik spanduk bekas (lihat gambar) oleh salah seorang dari mereka.

Sementara anak yang lain masih anteng menguapi acian singkong (gepengan) menggunakan kaleng susu.

Caranya mudah, gepengan yang dibentuk seperti bulatan di atas kaleng susu yang satu ditempelkan di atas kaleng susu yang lain yang berisi air yang terjerang (lihat gambar).

Lalu, semua gepengan yang sudah diuapi dengan air mendidih itu dijemur di panas matahari biar cepat kering, lebih keras dan garing bersama dengan potongan-potongan acian singkong lainnya yang sudah dipotong-potong persegi oleh Alec secara diam-diam di dalam pondok.

Setelah dijemur, kedua model adonan (bulat dan persegi) yang sudah kering  siap diangkat untuk selenjutnya digoreng untuk jadi kerupuk enye-enye alias opak.

Bedanya, kalau anak-anak menggunakan kaleng susu untuk membulatkan dan merebus adonan, Alec menggunakan  periuk rebus (lihat gambar). Komposisi adonannya cukup terdiri atas daun bawang, cabe, bawang putih, ketumbar dan garam secukupnya.
Hasilnya ya sama, sejenis kerupuk bukan keripik dari singkong. Ada yang menyebutnya opak, ada pula yang menyebutnya enye-enye. Nama lainnya kalau ada, terserah, yang penting kerupuk ini sedap dimakan pakai nasi. Selamat berbuka...! (ac)

Senin, 15 Juni 2015

Alat congkel yang lebih ditakuti dari senjata api

Matahari siang itu bersinar terik, membuat udara terasa lebih panas. Baju hitam gunting Cina yang ia kenakan seakan menyiratkan dirinya seorang pendekar. Atau, paling tidak ia mengerti tentang ilmu bela diri tradisional khas Nusantara, Silat. Rupanya bukan. 

JAKARTA (Persbiro): Jajang, begitu panggilannya, asgar alias asli Garut, hanyalah orang kampung yang mencoba mengadu peruntungan di kota besar dengan berdagang keliling seantero Jakarta. Barang dagangan yang ia bawa adalah pisau dari berbagai jenis dan model, salah satunya adalah karambit.

Di Sumatera Barat tempat pisau bengkok ini berasal, sejatinya adalah alat pencongkel daging kelapa agar terpisah dari batoknya.

Alat ini disebut Karambiak atau Kurambiak karena identik dengan karambia yang artinya kelapa. Di luar negeri pisau ini dikenal dengan sebutan Karambit atau Kerambit dalam standar bahasa Indonesia.

Alat ini pertama kali diperkenalkan sebagai senjata oleh Pandeka Baruak, seorang pesilat yang kebetulan berprofesi sebagai penyedia jasa petik kelapa.

Ia memetik kelapa dengan bantuan seekor beruk, sejenis monyet khas Sumatera, yang terlatih untuk memetik sekaligus memilih kelapa muda dan kelapa tua.
 
Karambit dijadikan senjata rahasia untuk berjaga-jaga kalau tanpa terduga beruk peliharaannya menjadi agresif terhadap tuannya, biasanya di musim kawin atau bulan purnama yang ditandai dengan membesarnya tumbung, bagian pantat Si Beruk. Karena, agresivitas beruk jantan terkenal bisa menciderai bahkan gigitannya bisa mematikan.

Hewan sejenis juga ditemukan di Benua Afrika yang lazim dikenal sebagai Baboon Afrika.

Uniknya, peninggalan arkeologis yang menggambarkan beruk pemanjat kelapa bisa ditemukan dalam sejarah Mesir Kuno, yang menjadikan dasar hipotesa bahwa nenek moyang bangsa Mesir berasal dari Sumatera.

Menurut Ali Cestar, pengarang buku "Minangkabau Hebrew" (Bahasa Ibrani Minangkabau), nenek moyang bangsa Mesir kemungkinan besar berasal dari keturunan Raja Perahu - Ratu Hati yang di zaman kuno pernah hidup di Pulau Enggano, mengingat banyaknya kemiripan pada keduanya mulai gambar hewan, simbol, benda-benda pada artefak, cinderamata hingga ke kelompok Bahasa Melayu atau Austronesia yang oleh para ahli dimasukkan dalam grup Semitik Barat.  
 
Artinya, sejarah Karambit sudah bermula  sejak manusia mengenal kelapa sebagai konsumsi dan menu sehari-hari.

Sejatinya, Karambit adalah senjata rahasia, jadi wajar kalau banyak orang Indonesia bahkan orang Minangkabau sendiri yang tidak tahu tentang pisau ini. Saking berbahayanya Karambit ini, ia hanya boleh diwariskan pada orang-orang dengan akhlak yang baik dan sudah teruji.

Seorang pendekar tangguh lebih takut pada Karambit ketimbang golok atau samurai. Bahkan, Karambit lebih ditakuti dari senjata api sekalipun. Kenapa?

Pertama. Karena, luka akibat tembakan peluru masih bisa disembuhkan dengan mengeluarkan proyektilnya dari dalam tubuh korban. Tapi luka akibat Karambit seperti usus yang tercabik sampai pergelangan tangan yang hampir putus atau leher yang tergorok, umumnya hanya berujung pada kematian.

Kedua. Karambit lengket dalam genggaman sehingga sulit untuk dipreteli lawan, efektif untuk pertarungan jarak dekat. Bahkan Karambit yang bagus memiliki lubang untuk mencantolkan jari telunjuk di ujung gagangnya.

"Ini mah saya jual Rp350 ribu saja. Biasanya dipakai buat menyembelih kambing kurban atau untuk pajangan juga bagus," tutur Jajang yang mengaku mengambil Karambit dari satu kampung kawasan sentra industri logam di Jawa Barat.

Dengan panjang pisau 29 cm dan menjadi 35 cm (lihat gambar) jika masuk sarung, pisau ini lebih tepat disebut Lawi Ayam, yang di Malaysia biasa dipakai untuk menyembelih ayam.

Karena, panjang Karambit senjata rahasia hanya ukuran sejengkal jari orang dewasa, sehingga mudah disembunyikan di balik pakaian atau dalam saku celana.

Bagaimanapun, sarungnya yang terbuat dari kayu Cempaka dihiasi oleh ukiran serta ornamen dari kayu Kenanga menjadikan pisau ini pas sebagai pajangan guna melestarikan budaya Nusantara.

Anda akan terkagum-kagum dengan fungsi Karambit setelah menyaksikan seni bersilat yang ditunjukkan oleh konsultan beladiri dan pelatih pasukan khusus militer AS, Doug Marcaida, asal Filipina berikut ini:

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/vi7TPa1eQ8w" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>

Nama: Kerambit Sunda
Kegunaan: Sembelih hewan ternak / kurban
Ukuran: 29 cm dan 35 cm jika disarungkan 
Bahan pisau: Besi baja 
Bahan sarung: Kayu cempaka
Furnish: ukiran dan ornamen dari kayu Kenanga
Harga: Rp350 ribu (blm termasuk ongkos kirim)

Untuk pemesanan, silakan hubungi:
Godambalang Agrokreasi
0821-55315751





Minggu, 31 Mei 2015

Sangkuriang, solusi bokek di bulan tua



Jeritan gadis kecil itu mengagetkan anak-anak tetangga yang lain. Semua yang ada di dekat situ segera mendekat, ingin tahu ada apa gerangan. Seekor makhluk licin bersungut entah bagaimana caranya tiba-tiba melompat ke luar. Dan untuk kedua kalinya ia menjerit, kali ini diikuti oleh suara teriakan heboh teman-temannya, diiringi gemercik suara air.

HAMBALANG (Persbiro): Hari itu Minggu, penghujung bulan Mei, sebagaimana tradisi bulan tua, kantong saya pas lagi puncaknya bokek. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya untuk lauk-pauk terpaksa cari yang gratis saja alias tangkap lele peliharaan sendiri.

Di Hambalang hingga Sentul, ikan lele tidak dipandang sebagai favorit untuk lauk pauk. Di kawasan itu umumnya orang lebih cenderung pada ikan air jernih seperti emas atau nila meski lebih mahal.

Memancing ikan lele membawa sensasi tersendiri. Disamping itu juga  mengundang rasa ingin tahu anak-anak tetangga. Apalagi setelah beberapa ekor lele masuk ember, serta-merta momen itu menjadi mainan mengasyikkan bagi mereka.




Bagi Anda yang ingin menjadikan lele sebagai pengisi waktu luang, ada beberapa tips yang Anda perlu tahu tentang cara memancing ikan lele.

Sarang & bayi kamarang

Ikan lele terkenal rakus, tak banyak pantangan. Tapi, lele memiliki kerongkongan yang kaku dan sempit, sehingga cenderung memakan umpan berukuran kecil atau lebih kurang hanya ¼ dari ukuran mulutnya.

Jika Anda menggunakan cacing, pastikan cacing tersebut dipotong-potong kecil. Jangan memberi cacing dalam ukuran utuh, karena lele umumnya enggan memakan cacing secara utuh, apalagi jika cacingnya besar dan panjang.
 

Saya sendiri menggunakan umpan yang sudah tersedia di sekitar pondok. Penduduk lokal menyebutnya kamarang (lihat gambar), sejenis tawon yang tidak agresif terhadap manusia. Tawon ini suka membuat sarang di bubungan atau loteng rumah penduduk.

Bayi kamarang merupakan umpan yang paling disukai ikan air tawar, tak hanya lele tetapi juga ikan emas, nila, patin hingga mujair bahkan sepat. Biasanya, kamarang menaruh bayinya dalam sarang yang berbentuk heksagonal mirip kepompong hingga membesar jadi anak kamarang.

Jika dipegang, sarang kamarang ini mirip kertas koran bahkan bisa hancur jika terkena air. Sarang mirip kertas ini juga bisa dijadikan umpan dan disukai lele.

Bukan air bersih!

Untuk menampung hasil tangkapan, gunakan baskom yang lebar, karena lele sangkuriang terkenal jago melompat ke luar ember (lihat gambar). Isilah baskom dengan air keruh secukupnya, jangan terlalu tinggi.

Air yang dipakai sebaiknya air tempat lele itu biasa hidup, atau air dari dalam tambak atau kolam itu sendiri, meski kotor. Jangan gunakan air bersih, apalagi jernih dan dingin.

Air bersih, dingin dan jernih bisa mengupas lapisan luar kulit lele yang menjadi andalan imunitas lele terhadap habitatnya. Jika kulit yang licin ini terkelupas gara-gara air bersih, maka dalam sekejap lele akan meronta-ronta kesakitan dan mati.

Pejantan tangguh & pembibitan

Jika ingin beternak lele sangkuriang, yang harus diingat adalah perlunya memilih pejantan yang tangguh. Ini penting untuk menjaga kualitas telur dari betina yang dibuahi.

Untuk mengetahui mana lele penjantan tangguh cukup mudah. Dari sekian lele jantan dewasa yang ditaruh dalam baskom atau ember, pilih yang paling sering melompat berusaha keluar. Yang paling agresif dari mereka adalah jenis yang paling tangguh.

Lihat bagian perut bawahnya, jika ada bentuk pentil memanjang, berarti jantan. Jika bentul pentilnya bulat, berarti betina (lihat gambar).

Kesuburan lele betina ditandai dengan keluarnya beberapa telur berwarna hijau. Setelah dibuahi pejantan tangguh, lele betina dari jenis subur seperti ini bisa menghasilkan ribuan butir telur.

Pembibitan lele sangkuriang adalah bagian tersulit dari keseluruhan proses peternakan ikan lele. Disebut paling sulit, karena banyak prakondisi atau syarat permulaan yang harus dipenuhi untuk persiapan pembibitan.

Untuk lebih jelasnya, silakan hubungi Godambalang Agrokreasi (GA) di 0821-55315751.  GA membantu memasarkan bibit lele Sangkuriang dari ukuran 6cm hingga 12cm.

Untuk pemesanan wilayah Citeureup, Cibinong, Cimanggis. Cibubur & Sentul minimal pembelian 5.000 ekor bibit bisa diantar langsung. Di luar wilayah tersebut masih Jabodetabek, dikenakan ongkos kirim dengan minimum order 15.000 ekor.

Ali Cestar
Praktisi peternakan lele Sangkuriang
tinggal di Hambalang



Tongkat kayu dari Tanah Surga



Selamat jalan, Kawan. Aku yakin singkong di Tanah Surga jauh lebih lezat dan gurih.Tapi waktuku belum tiba. Ada saatnya kita akan menikmati sajian ubi kayu bersama-sama di atas sana, kalau Tuhan mengizinkan.

JAKARTA (Persbiro): Tiga bulan terakhir, jalan raya menuju Tanjung Priuk relatif lengang dari truk-truk kontainer, moda angkutan yang kerap dituding sebagai biang kerok kemacetan. Itu pertanda pergerakan bongkar muat barang di pelabuhan  yang lazim disebut Priok itu mulai menurun.

Hal itu sekaligus menjadi indikator bahwa ekonomi mengalami downturn atau kelesuan, terlihat dengan tanda-tanda rendahnya pertumbuhan di hampir semua bidang industri, terutama logistik.  Karena, hampir semua sektor membutuhkan manajemen.

Akibat kelesuan itu, konon kabarnya, sekitar 1.300 unit truk terpaksa ditarik leasing karena default alias wanprestasi dalam cicilan kredit.

Proyeksi bisnis pengusaha truk sepertinya meleset dalam membaca pergerakan bisnis yang erat kaitannya dengan mata rantai pasokan itu, sebagai operator pengangkutan kontainer.
 
Akibatnya, banyak truk menganggur karena tidak ada muatan padahal sudah terlanjur ekspansi dengan menambah armada baru.

Dalam asumsi kasar saja, jika satu perusahaan mengoperasikan 10 armada baru, maka paling tidak ada 130 perusahaan truk terancam bakal bangkrut tahun ini.

Lesunya usaha logistik menyiratkan satu hal. distribusi kebutuhan pokok menjadi sektor yang paling terancam dengan serius.

Apalagi, bila sudah menyangkut sembako, bagi penduduk perkotaan hal itu merupakan indikator yang memprihatinkan, mengingat tingginya ketergantungan kota pada distribusi logistik terutama ke pasar-pasar tradisional, supermarket, minimarket hingga ke warung-warung kecil dekat rumah.

Jika ancaman seperti itu benar-benar terjadi, risiko sosialnya jauh lebih besar lagi. Sulit dibayangkan apa yang bisa dilakukan oleh warga kota yang kelaparan karena tidak mendapat pasokan pangan.

Orang mungkin bisa  berkompromi dengan tunggakan kredit, tapi kalau dengan perut? Punya uang banyak, harta melimpah tak ada artinya kalau bahan pangan susah diperoleh.

Skenario terburuk adalah penjarahan masal  bahan makanan di tempat-tempat yang menjual atau menyimpan sembako temasuk kios, warung, minimarket, supermarket hingga hipermarket.

“Ah sudahlah, itu hanya pikiran buruk dari seorang yang sedang dihinggapi mental skeptis,” batin saya sambil mengayunkan pacul, saat menghabiskan waktu Sabtu pagi di kebun menanam bibit singkong dari potongan dua batang yang kemarin baru dipanen.

Singkong selain khasiatnya yang multiguna juga berbau filosofis asli 
yang mengakar di negeri yang berjuluk Tanah Surga ini


Tanaman yang lazim juga disebut dengan ubi kayu ini memiliki umbi yang kaya dengan vitamin dan mineral yang sesuai dengan kebutuhan harian manusia dalam menjalankan aktivitas rutin yang berat seperti berani dan berladang 

Singkong dalam kadar tertentu juga mengandung sianida yang berbahaya bagi tubuh manusia. Razun itu bisa laruti di dalam air, karena itu sebelum dimasak singkong hendaklah dicuci dan direndam air terlebih dulu. Makan singkong mentah adalah perbuatan konyol.

Banyak varian sajian mewah yang melibatkan singkong di dalamnya. Yang paling simper adalah ditaburi garam atau gula merah di atas singkong yang direbus dengan sangat empuk. Sensasinya di lidah, luarrr biasa!
 
Itulah uniknya singkong. Batangnya bisa dipotong-potong dan tetap tumbuh! Dalam perhitungan saya, singkong merupakan solusi paling logis untuk menangani krisis pangan di negeri ini.

Selain itu, pemerintah sudah siap dengan worse-case scenario ini, terbukti dengan adanya kampanye penggalakan makanan singkong secara masif, bahkan sampai mewajibkan menu singkong dalam kegiatan-kegiatan resmi pemerintah dan rapat-rapat terkait PNS,

Saya jadi teringat dengan syair lagu Koes Ploes yang populer di era 1970-an berikut ini,

“Bukan lautan, hanya kolam susu,. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”

Lamunan saya buyar seketika, tatkala ada SMS yang mengabarkan bahwa seorang teman alumni satu kelas di SMA mendadak meninggal dunia karena serangan jatung.

Kawan alumni tersebut adalah seorang trainer logistik senior di kawasan Jakarta Utara.  Dan terakhir, ia bekerja untuk satu perusahaan logistik terkemuka berbasis Singapura. Bidang yang ia tangani adalah warehousing, satu bidang dari sistem mata rantai pasokan yang SDM-nya masih terhitung minim di Tanah Air.

Bulan lalu saya sempat menanyakan alamatnya. Banyak hal yang bisa kami diskusikan, baik soal bisnis logistik, hal-hal teknis dalam lingkup supply chains & sistem pergudangan, seputar alumni, tentang musik hingga ke masalah keyakinan dan spiritualitas.

Tapi, itulah Jakarta, tak mudah bagi sesorang mencari waktu longgar untuk berkunjung, apalagi untuk bercengkrama ngalor-ngidul. Akhirnya kami lebih banyak berdiskusi lewat media sosial.

Saya pikir, kawan itu beruntung karena tidak perlu menyaksikan, (kalaulah prediksi kelangkaan itu menjadi kenyataan) satu momen ketika sembako sulit didapat akibat gangguan pada sistem distribusi dan logistik di negeri berjuluk Tanah Surga ini, beserta implikasi negatifnya.

Ketika menyelesaikan naskah ini, saya dalam kondisi bokek, dan tentu saja tak nyaman untuk bergerak kemana-mana, termasuk walau hanya sekadar untuk melayat ke rumah duka di kawasan Rawamangun.

Dan dari pondok tempat saya bertafakur di Hambalang, saya hanya bisa memanjatkan doa untuknya dan sengaja menulis naskah ini sebagai in-memoriam khusus buat almarhum.

 “Selamat jalan, Kawan. Aku yakin singkong di Tanah Surga jauh lebih lezat dan gurih.Tapi waktuku belum tiba. Ada saatnya kita akan menikmati sajian ubi kayu bersama-sama di atas sana, kalau Tuhan mengizinkan.”

Sabtu 30 Mei 2015,
In memoriam sahabat istimewa Smanduo’89, Irwansyah Sofyan.

Ali Cestar
Pemerhati logistik tinggal di Hambalang

Rabu, 27 Mei 2015

Heboh, bagi-bagi batu mulia gratis!

Suara deru mesin gerinda tak menghalangi pembicaraan Aryo dan Liam pada sore itu. Saking seriusnya, tak terasa  perut Liam terasa lapar karena sebelumnya tak sempat makan siang. Diskusipun akhirnya berlanjut ke rumah makan Sunda tak jauh dari situ. Perbincangan mereka baru terhenti tatkala azan Ashar berkumandang.


HAMBALANG (Persbiro): Lepas Ashar, pembicaraan lantas dilanjutkan di tempat semula, di pojok pengrajin batu akik, satu di antara sekian banyak pengrajin dalam kelompok UKM yang dibina Aryo.

Kesimpulan pembicaraan, Aryo siap mengorbankan hampir 6 kuintal (600 kg) koleksi batu akik miliknya kepada siapa saja yang berminat dengan syarat batu harus digosok di UKM batu akik binaannya, yang terdiri dari anak-anak mudah di bawah binaan Aryo. Sementara Liam akan berperan sebagai tenaga promosi dan pemasaran baik online maupun offline.

Kok digratiskan? Bukankah batu akik seperti Pancawarna, Lumut Sungai Dareh, Bacan dan lain-lain itu terkenal sebagai batu mahal? Iya gratis. Sekali lagi, gratis tis tis tis.

Selidik punya selidik ternyata Aryo sudah menjadi kolektor batu serius sejak 1998 di saat Jakarta lagi panas-panas membara oleh suhu politik waktu itu.


"Saya ingin menghabiskan masa pensiun saya dengan banyak-banyak beramal di hari tua. Saya rela semua koleksi saya, lebih kurang enam kuintal, dikorbankan asal mereka dapat kerjaan," tutur Aryo menjawab keheranan mantan koleganya itu/.

Maka, lahirlah proyek kerjasama  pemasaran jasa gosok batu akik, diberi nama Gerinda Gemstone (GG).

Target pemasaran utama lebih ke bidang online. Peminat bisa mengirim formulir pemesanan ke nomor SMS 0821-55315751 dengan menyebutkan nama batu akik yang dikehendaki, ukuran gosok: kecil, medium atau besar (S,M,XL) dengan patokan upah gosok:
  • batu kecil, setara small (S), lebih kurang setara dengan koin 200 rp silver: Rp40 rb
  • batu sedang, medium (M), lebih kurang setara dengan koin 500 rp kuning:: Rp50 rb
  • batu besar, extra large (XL), lebih kurang setara dengan koin 100 rp lama: Rp60 rb 
Koleksi batu akik yang tersedia a.l.:

1. Pancawarna
2. Lumuik Sungai Dareh
3. Bacan
4, Lavender / Spiritus
5. Blue Opal
6. Mutiara Tumpang / Bulu Hanonam (stok terbatas)
7. Red/yellow Raflesia
8. Dan lain-lain sesuai stok


Hitungan sederhana, dengan Rp100 ribu, Anda sudah dapat 2 (dua) batu akik. Harga itu sudah termasuk ongkos kirim ke seluruh wilayah RI.

Meniru gaya Aryo, "Hitung-hitungan beramal di usia pensiun lah," tutur Liam menjawab Persbiro di kediamannya di Hambalang, awal pekan ini (3/5/2015).



Formulir pemesanan: nama_pemesan, nama_batu, batu_pengganti (jika stok yang pertama habis), jumlah, ukuran, alamat_pengiriman_lengkap, SMS ke 0821-55315751. Nomor rekening akan dikirimkan sebagai balasan, hanya ke peminat yang dinilai melakukan pemesanan serius.

Contoh format pemesanan:

SUTARYO, PANCAWARNA, LAVENDER, DUA, S,  JL YOS SUDARI NO 1 TANJUNG PRIOK, JAKARTA 143210

"free give-away gemstones, grinder service charge only"
GERINDA Gemstone - Akik Gratis Gosok Bayar
Godam House, Hambalang, Citeureup, Kab. Bogor
0821-55315751


Senin, 25 Mei 2015

Racunnya sepadan dengan manfaat yang diberikannya

Seorang teman dari kampung semasa kecil, sebut saja namanya Nazaruddin, memposting gambar peringatan di wall Facebook-nya bertuliskan, "Tanaman hias ini beracun." Setelah saya amati, salah satu tanaman itu adalah sri rejeki, yang minggu lalu sengaja saya cari di hutan untuk dibudidayakan. Saya menaruhnya di beberapa titik tempat di dinding tiap kamar dalam pondok yang saya tempati, termasuk dalam gudang. Kenapa?

HAMBALANG (Persbiro): Berikut adalah tahap-tahap ketika sri rejeki saya siapkan untuk ditaruh dalam vas bambu, jika diisi tanah (harus rutin disiram), dan botol air mineral, jika diisi air (air cukup ditambah secara berkala).

Kenapa Sri Rejeki? Ia adalah satu dari sekian banyak tanaman Indonesia yang bisa menyedot racun dari udara. Bahkan, hampir semua tumbuhan yang diriset Badan Antariksa AS, NASA, ternyata tumbuh di Indonesia, termasuk andong atau hanjuang yang sering dijadikan penanda batas tanah.

Sri rejeki ditaruh di bale bersama potongan bambu yang dijadikan vas

Akar yang utuh adalah bagian terpenting dalam pembudidayaan tanaman

Untuk hasil maksimal, kotoran kambing perlu digiling terlebih dulu

Tanah yang baik untuk tanaman hias adalah yang gembur dan bercampur pupuk kandang & arang

Masukkan pupuk kandang di awal dan di akhir pengisian tanah media tanam

Untuk mengurangi kerepotan penyiraman rutin, botol plastik bekas minuman atau air mineral bisa digunakan

Blanceng termasuk tanaman penyedot racun yang baik

Meski agak langka, tapi suplir terkenal sebagai penyedot racun dari udara paling bagus yang tumbuh di Indonesia

Tanaman pernyedot racun dari udara lainnya. adalah: lidah mertua, blanceng, hanjuang atau andong, peace lily, maranta, pakis boston, palem kuning, suplir, sirih belanda, walisongo, spider plant, lady's palm (palem bambu) dan dendrobium.

Gambar-gambarnya bisa Anda googling sendiri. Selamat browsing!.

Godambalang Agrokreasi
0821-55315751



Minggu, 24 Mei 2015

Perlu ditanam karena faedahnya melampaui rasanya



Jika Anda kebetulan belanja ke warung atau minimarket terdekat, jangan lupa tanyakan tali tambang plastik. Tali ini bermanfaat untuk membuat jalan pertumbuhannya. Meski rasanya teramat pahit, tapi ternyata khasiatnya luar biasa. Asli Indonesia dan patut dibudidayakan dan dilestarikan. Khasiatnya mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.

HAMBALANG (Persbiro): Orang Padang menyebutnya pario. Kalau di Jakarta lebih dikenal sebagai pare atau paria. Berikut adalah foto-foto (resolusi rendah) bagaimana cara menanam pare memanfaatkan tali tambang plastik sebagai jalur tumbuh kembang tanaman ini.

Pertumbuhan pare cenderung merambat. dalam hal ini  mengikuti arah tali

Daun pare memilik tentakel untuk menggenggam tali sembari menguatkan batang saat buah mulai membesar

Tali tambang diikat sedemikian rupa sehingga pare bisa tumbuh dan berkembang dengan lelauasa

Tiang seperti bambu adakalanya diperlukan untuk menahan beban tatkala pare mulai berbuah banyak

Daun pare terus merambat  mengikuti tali tambang plastik di lahan kebun Godambalang Agrokreasi, Citeureup

Dua buah pare yang pertama kali muncul mengindikasikan bahwa pertumbuhan pare cukup berhasil


Godambalang Agrokreasi
Citeureup, Kabupaten Bogor
0821-55315751

Bacaan bagus yang relevan:


.